oleh

Penjual Kacang Rebus, di Lintas Metropolitan Makassar

gemanews.id-Makassar-Penjual Kacang di Jalan Penghibur Kota Makassar masih ada yang menggunakan lampu strongking sebagai penerang di malam-malam pandemi Covid-19 yang sepi. Saat ibukota Provinsi Sulawesi Selatan masih berstatus sebagai Kota Besar Makassar sebelum menjadi Kota Madya, alat penerang yang sering juga disebut dengan nama lampu gas atau lampu petromax ini masih merupakan barang berharga untuk membantu penerangan malam hari di rumah-rumah yang tak dijangkau aliran listrik.

Pesta-pesta malam di lapangan pun sering menggunakan lampu yang berpijar cahaya neon tersebut.
Strongking dirancang dengan bentuk memiliki tabung bahan bakar minyak tanah di bagian bawahnya. Sebelum dinyalakan kaos atau sumbu lampu yang dilekatkan dibagian tengah dibakar dengan bantuan minyak spritus. Saat kaos lampu dibakar, bersamaan minyak tanah dipompa dari tangki disalurkan melalui pipa halus ke arah kaos yang masih terbakar.

Minyak tanah yang menyemprot sekecil jarum membuat kaos lampu mengembang dan memancarkan cahaya terang. Kaos lampu dilindungi kaca khusus pelindung tak tembus angin. Kaos atau sumbu lampu yang telah terbakar sangat peka, mudah rontok jika terkena hembusan angin atau mendapat guncangan.

Dalam waktu tertentu tangki dipompa diisi angin untuk menjaga minyak tanah terus tertekan naik mengalir ke arah sumbu kaos lampu. Terasa ribet dan harus berhati-hati saat akan menyalakan lampu strongking secara manual. Generasi milenial sudah banyak tidak mengenal lampu jenis ini. Sudah menjadi barang langka.

“Tetapi belum merupakan barang antik. Lampu dan peralatannya semua masih ada tersedia dijual di toko-toko khusus penjual lampu strongking, mulai dari kaos lampu, tombak penyalur minyak, karet pompa, kaca pelindung, spritus, termasuk bahan bakar minyak tanah,” jelas si penjual kacang rebus pengguna strongking. Yang langka, katanya, justeru pembeli kacang rebus di malam-malam sepanjang musim Virus Corona

Penulis Mahaji Noesa

Post Terkait