oleh

Heritage dan Walikota Bodoh

gemanews.id-Jakarta-Di tahun 2011, Pemprov Jawa Tengah yang saat itu dipimpin Gubernur Bibit Waluyo, berniat membangun mall di atas lahan bangunan kuno bekas pabrik es Saripetojo di Purwosari Solo. Walikota menentang keras niat sang gubernur.

Menurut Walikota Solo saat itu, bangunan kuno pabrik es tersebut tergolong benda cagar budaya. Bangunan heritage yang harus dipertahankan. Bibit Waluyo marah dan mencari Walikota Solo sebagai “walikota bodoh”. Bibit Waluyo salah. Walikota bodoh itu hanya perlu waktu tiga tahun untuk menjadi orang nomor satu di republik ini. Tahun 2014 mas bro walikota itu menjadi Presiden Republik Indonesia. Nama walikota itu Joko Widodo, dan bangunan kuno bekas pabrik es itu tetap dipertahankan sebagai bagian dari sejarah panjang arsitektur Kota Solo.

Di Kota daeng Makassar Tahun 2020 Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah membongkar Stadion Mattoangin Yang Masuk dalam cakar budaya Telah hilang,Mereka akan menggantinya dengan bangunan baru

Dari sisi arsitektur, stadion itu menjadi pertanda bagi gaya arsitektur Kota Makassar di tahun 1950an. Para arsitek menyebutnya Arsitektur Jengki, gaya arsitektur yang berkembang pasca Proklamasi Kemerdekaan 1945. Lahir sebagai pernyataan sikap menolak kolonialisme, Arsitektur Jengki adalah Proklamasi Kemerdekaan Arsitektur Indonesia. Dari sisi sejarah olahraga, Stadion Mattoangin adalah monumen terakhir yang memuat cerita upaya warga Kota Makassar membantu Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyelenggaran PON IV di tahun 1957. Itulah satu-satunya PON yang pernah diselenggarakan di Sulsel. Ini dua hal yang menjadi alasan sangat kuat untuk menggolongkan Stadion Mattoangin sebagai Benda Cagar Budaya.

Secara teknis pun, lokasi saat ini sungguh tak layak bagi sebuah stadion bertaraf internasional. Dari segi luas lahan, secara kasat mata saja dapat kita pastikan takkan mampu menampung semua aktifitas yang dibutuhkan oleh sebuah stadion internasional. Yang paling mengkhawatrikan tentunya ketersediaan akses untuk evakuasi ribuan orang penonton sepakbola bila terjadi keributan antar pendukung kesebelasan yang bertanding.

Saya belum mendengar pendapat apapun dari pejabat Walikota Makassar saat ini, maupun mantan walikota Ramdhan Pomanto yang notabene adalah seorang arsitek. Apatah lagi dari empat pasang calon Walikota-Wakil Walikota Makassar. Apakah mereka khawatir diberi label “walikota bodoh” seperti Walikota Solo di atas? Saya menduga sebagain dari mereka memang tak paham tentang Benda Cagar Budaya.yang ada di kota Makassar Sulawesi Selatan

 

Gondangdia, 10 November 2020

Ir. M. GAzali Thana.MT