Ad imageAd image

Mengenal Lebih Dekat “Bung Abduh” Dari Aktivis PRD ke Politisi PAN

admin
By admin 115 Views Add a Comment

Gemanews.id-Palopo — Sejarah perjalanan politik Indonesia pasca reformasi tidak hanya diisi oleh tokoh-tokoh besar di tingkat nasional, tetapi juga oleh figur-figur lokal yang turut membentuk dinamika gerakan dan perubahan sosial. Salah satunya adalah H.M. Abduh Bakry Pabe, ST, yang akrab disapa Bung Abduh. Ia dikenal sebagai mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada era 1990-an, sebelum kemudian melanjutkan kiprah politiknya di Partai Amanat Nasional (PAN).

Latar Keluarga dan Pendidikan Awal
Abduh Bakry Pabe lahir di Palopo, 1 Agustus 1975, dari keluarga yang lekat dengan tradisi keagamaan dan pendidikan. Ayahnya, H.M. Bakry Pabe, merupakan dai Muhammadiyah yang cukup dikenal di kawasan Tana Luwu, sementara ibunya, Hj. Asiah Maddiyarah, aktif di organisasi perempuan Aisyiyah.

Lingkungan keluarga yang akrab dengan buku dan aktivitas dakwah membentuk karakter Abduh sejak kecil. Ayahnya yang juga berwirausaha melalui toko buku kecil di Palopo, memberi teladan tentang kerja keras dan kemandirian. Tradisi membaca dan diskusi menjadi bagian dari keseharian keluarga.

Ad imageAd image

Abduh menempuh pendidikan dasar di Palopo, sempat mengenyam pendidikan pesantren di Makassar, sebelum akhirnya melanjutkan ke SMP dan SMA negeri. Pada masa remaja, prestasi akademiknya sempat menonjol, meski mengalami pasang surut sebagaimana lazimnya usia sekolah.

Titik Balik: Dunia Mahasiswa dan Gerakan

Perubahan signifikan terjadi ketika Abduh memasuki dunia perguruan tinggi di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Fakultas Teknologi Industri. Di sinilah ia mulai bersentuhan dengan dinamika gerakan mahasiswa.
Peristiwa April Makassar Berdarah (AMARAH) 1996, yang menewaskan tiga mahasiswa akibat bentrokan dengan aparat, menjadi titik balik kesadaran politiknya. Sejak itu, Abduh aktif dalam berbagai organisasi kampus dan forum kajian strategis, yang mempertemukannya dengan aktivis lintas kampus di Makassar.

Ad imageAd image

Keterlibatannya dalam Serikat Mahasiswa Makassar (SMM)—yang kemudian menjadi cikal bakal Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)—membawanya lebih dekat pada gagasan-gagasan kiri dan demokrasi kerakyatan. Organisasi ini dikenal kritis terhadap rezim Orde Baru dan mengusung tuntutan-tuntutan yang kala itu dianggap radikal, seperti pencabutan Dwifungsi ABRI dan perluasan ruang demokrasi.

Aktivisme di Era Orde Baru dan Reformasi

Menjelang dan setelah reformasi 1998, Abduh terlibat aktif dalam jaringan gerakan mahasiswa dan rakyat bersama PRD, yang pada masa itu menjadi salah satu oposisi paling keras terhadap pemerintahan Soeharto. Aktivitasnya mencakup pengorganisasian mahasiswa, buruh, petani, hingga aliansi dengan kelompok pendukung Megawati Soekarnoputri.

Di tengah aktivitas politik tersebut, Abduh harus menghadapi kehilangan besar: wafatnya sang ayah pada awal 1998. Meski terpukul, peristiwa itu tidak menghentikan keterlibatannya dalam gerakan hingga runtuhnya Orde Baru pada 21 Mei 1998.

Dari Aktivisme ke Dunia Profesional
Memasuki awal 2000-an, Abduh mulai mengurangi aktivitas politik praktis dan fokus menyelesaikan studi serta membangun kehidupan keluarga. Ia menikah pada 2001 dan kemudian merintis usaha yang berkembang menjadi PT Jirana Plus, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan infrastruktur.

Perusahaannya terlibat dalam sejumlah proyek di Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia, sebelum kemudian memperluas usaha ke sektor properti, khususnya penyediaan rumah subsidi.
Bergabung dengan PAN
Langkah Abduh ke Partai Amanat Nasional (PAN) tidak lepas dari faktor keluarga dan keyakinan bahwa politik tetap menjadi instrumen penting perubahan.

Ia resmi bergabung pada pertengahan 2000-an dan sempat terlibat dalam dinamika internal partai di tingkat provinsi Sulawesi Selatan.

Meski tidak selalu berada di garis depan struktur partai, Abduh dipercaya mengisi posisi strategis di bidang kebijakan publik dan terlibat dalam berbagai kerja-kerja politik elektoral, termasuk sebagai bagian dari tim relawan dalam sejumlah kontestasi daerah.(**)

Share This Article
Leave a review