oleh

Once Upon A Time With Syahrul Yasin Limpo

-Nasional-786 Dilihat

gemanews.id,Jakarta-Dalam kurun tiga dasawarsa terkahir, Warkop Phoenam, baik di Makassar maupun di Jakarta, telah menjadi saksi bisu bagi dinamika politik yang terjadi di Sulawesi Selatan. Hal itu membuat penulis tertarik menulisnya. Untuk keperluan itu, penulis lalu membuat daftar sejumlah tokoh penting sebagai narasumber yang mesti diwawancarai.

Peringkat atas pada daftar itu, Penulis meletakkan nama Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulsel 2008 – 2013 dan 2013 – 2018. Mengapa? Semua pelanggan Phoenam tahu kalau Syahrul adalah pengunjung setia Phoenam sejak dari masa remaja hingga kini. Begitu setianya, saat menjabat gubernur, misalnya, dengan kegiatan yang begitu padat, masih saja sering ditemukan di Phoenam dengan pakaian dinas harian.

Masalahnya, untuk mewawancarai Syahrul bukan perkara gampang. Selain tak tahu dimana dan bagaimana menghubunginya, juga, hambatan terbesarnya adalah ia tidak mengenal penulis secara baik. Padahal, untuk melakukan wawancara guna menggali informasi dari narasumber lebih dalam, penulis membutuhkan suasana yang lebih cair dan bersahabat.

Lama waktu berlalu, wawancara itu tak jua terlaksana. Namun, hingga suatu siang di bulan September yang panas ketika berkunjung di Phoenam Jakarta, kesempatan itu datang tak terduga. Padahal tujuan Penulis sebenarnya hendak mewawancarai Albert, pemilik Phoenam. Sementara duduk santai bersama beberapa kawan, tiba-tiba para pengunjung sontak berdiri menyalami seorang pengunjung yang baru masuk.

“Ah, pucuk dicinta ulam tiba. Ini kesempatan yang tak boleh kulewatkan,” sorakku dalam hati.

Sosok penting yang ingin penulis temui dalam beberapa bulan terakhir, muncul secara tak terduga. Syahrul Yasin Limpo melangkah sambil menjabat tangan pengunjung yang berdiri menyambutnya. Jemari dan senyum lebarnya yang khas, sampai juga padaku. Usai berjabat tangan, ia memilih duduk di meja sebelahku. Surprise. Penulis didaulat oleh kawan-kawan untuk duduk di kursi kosong disebelahnya. Penulis pun tak sia-siakan. Sebab itulah kesempatan terbaik untuk mengobrol dengannya.

Mula-mula, duduk di dekatnya tak jua membuat perasaan penulis enjoy. Ada jarak psikologis. Bahkan duduk di dekatnya seolah tak menarik perhatiannya. Tetapi penulis maklum, sebab ia memang tak mengenalku. “Harus ada cara untuk mencairkan suasana sekaligus menarik perhatiannya,” pikirku. Tiba-tiba teringat pada tulisan tentang kepergian Ichsan Yasin Limpo yang sempat viral di Makassar beberapa waktu lalu

“Kakanda, saya yang menulis, Di Balik Sebutan Punggawa.”

Berhasil. Mendengar itu, Syahrul berpaling dan menatap ke arahku beberapa saat lamanya. Tetapi suasana berubah sedikit sendu. Tampak sangat jelas kalau masih ada tersimpan duka pada kelopak matanya.

“Terima kasih perhatianmu, dik,” katanya kemudian, pelan, bahkan nyaris terbata. Tiba-tiba Penulis merasa tidak enak. Oleh karena itu, Penulis lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan untuk memulihkan suasana agar kembali ceria.

“Saya beruntung bertemu Kak Syahrul hari ini. Bayangkan, dua bulan lamanya saya menunggu kesempatan,” kataku. Syahrul meresponku dalam dialek Ujung Pandang yang khas. “Kenapa barupi sekarang bertemu? Apa yang bisa kubantukanki?” Responnya itu menandakan kalau kondisi emosionalnya sudah stabil, dan itu membuat penulis senang. Tetapi yang terpenting bagiku, rasa kami mulai tersambung.

“Saya bermaksud menulis tentang Phoenam. Sebagai pengunjung setia, saya menjadikan Kak Syahrul salah satu narasumber utama,” tukasku yang membuatnya tampak begitu antusias. Usai menyulut sebatang rokok yang terselip dibibirnya, Syahrul kemudian memperbaiki letak duduknya dengan menarik kursinya agak ke belakang, tipis, bersandar di dinding.

Sambil menunggu ia bicara, Penulis mempersiapkan perekaman dengan HP sekaligus meminta persetujuannya untuk direkam. Tak lama, ia pun bicara. Tetapi, lagi-lagi, Penulis merasa mendapat surprise. Syahrul rupanya tak hanya memiliki kemampuan retorika yang memukau, tetapi juga memiliki tinjauan yang multi perspektif tentang warung kopi.

Bayangkan, ia menjelaskan warung kopi, mulai dari apsek filosofis, sosiologis, dan pemerintahan. Ia bahkan menyebut warung kopi sebagai simbol peradaban, sebuah kultur, dan indikator kemajuan ekonomi suatu daerah. Menurutnya, sebuah daerah yang maju, dapat ditengok pada warung kopinya. “Tidaklah mungkin orang-orang keluar dari rumahnya kalau tidak punya kelebihan uang,” tegasnya.

Menurutnya, Di Sulawesi Selatan, misalnya, dimana-mana ada warung kopi. Itu tandanya bahwa masyarakat di sana memiliki kelebihan uang yang cukup untuk di-spends di warung kopi. Pada kerangka ekonomi makro, pandangan Syahrul ini tentu saja terbuka diperdebatkan. Tetapi kira-kira apa yang terjadi kalau tiba-tiba warung kopi mulai sepi, pertanda apakah itu?

Dari semua perspektif yang ia sampaikan itu, yang paling menarik adalah warung kopi dan paradigma pemerintahan. Syahrul menegaskan bahwa paradigma pemerintahan yang betul adalah pemerintahan yang dibangun dari warung kopi ke warung kopi. Mengapa? Karena di warung kopilah seorang pemimpin pemerintahan dapat menemukan hati yang tulus dan denyut nadi kejujuran rakyatnya.

Seorang pemimpin harus mau melihat tatapan mata rakyatnya. Sebab tatapan mata itu lebih jujur mengungkapkan banyak hal. Lalu melakukan dialog untuk menemukan kebutuhan dan harapan mereka. “ Dan, yang tak kalah pentingnya adalah, bahwa di warung kopi itulah sebenarnya seorang pemimpin pemerintahan dapat melatih dan membiasakan diri untuk mendengar hal-hal yang tak ia sukai,” pungkasnya.

Pemerintahan yang dibangun dari warung kopi ke warung kopi ala Syahrul itu, sebenarnya adalah antitesa dari paradigma pemerintahan menara gading. Hal ini mengingatkan kita pada blusukan Jokowi yang pernah populer pada masa-masa awal pemerintahannya di DKI Jakarta. Secara teknis memang berbeda, tetapi tetap saja memiliki kesamaan secara subtansial, yaitu, pemerintahan yang mau melihat dan mendengar. Sebab menurut Syahrul, pemerintahan itu adanya bukan di menara gading.

Usai berdiskusi tentang warung kopi, tema pembicaraan tiba-tiba berpindah ke Papua. Entah siapa yang memulai. Penulis tidak menyangka kalau Syahrul pun memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang masalah Papua. Masalah dan solusi yang ia tawarkan, begitu komprehensif. Mulai dari quick agenda, temporary agenda, hingga permanent agenda. Sayang, ia tak berkenan penjelasannya direkam dan disebarluaskan melebihi penjelasan resmi pemerintah. Apa boleh buat, penulis pun urung menulis banyak masalah itu.

“Itu tidak etis, dinda. Tidak baik kita dicap sok tahu,” katanya.

Tetapi sekalipun begitu, penjelasannya tentang Papua, apa lagi Wamena, membuat kami semua terperangah. Ia bahkan berpesan agar kita semua lebih bijak melihat masalah di Wamena, dan tidak berspekulasi maca-macam terhadap apa yang terjadi.

“Gambarannya begini. Usai terjadi banjir, tersisa banyak genangan. Genangan itu kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan tertentu. Karena itu, percayakan pada pemerintah untuk mananganinya. Insya Allah, Pemerintahan Pak Jokowi mampu melakukannya,” pesan Syahrul optimis.

Penjelasan Syahrul tentang masalah Papua membuat penulis membatin. “Siapakah Syahrul saat ini sehingga mampu menjelaskan masalah Papua secara detil, seperti layaknya seorang anggota tim pencari fakta?”

Penulis benar-benar penasaran, namun tak punya keberanian untuk menanyainya sampai ia pamit meninggalkan Phoenam. Lebih satu jam lamanya kami berbincang memberikan banyak perspektif. Satu hal yang penulis catat baik-baik, yaitu, pandangannya tentang keutuhan NKRI adalah di atas segalanya.

“Sayang, usianya kini memang sudah tak mudah lagi, padahal pikiran-pikirannya, masih sangat dibutuhkan bangsa ini,” batinku sembari memandanginya dari belakang hingga ia benar-benar menghilang di balik pintu Warkop Phoenam (ym)

Oleh : Yarifai Mappeaty

Jakarta Kalipasir, September 2019.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *