oleh

Tradisi Masakan ‘Pallu Karungrung Jarang’ Menjadi Magnet Penarik Perantau Asal Tompo Bulu Maros Saat Lebaran

-Sulselbar-641 Dilihat

Gemanews.id.Maros.Tradisi masakan ‘pallu karungrung jarang’ menjadi magnet penarik tersendiri bagi warga Tompo Bulu, tak heran jika setiap lebaran tiba warga yang merantau keluar Tompo  Bulu selalu berusaha mudik dan makanan ini menjadi sajian utama di momen hari lebaran.

Sudah menjadi tradisi disetiap perayaan idul Fitri, ada sajian makanan khas tiap daerah untuk para tamu. Di desa Tompobulu Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi-Selatan, menu khas lebaran itu bernama “pallu karungrung jarang”.

Menurut Badaruddi, Pallu karungrung adalah makanan hasil olahan dengan bahan baku kuda dan daun karungrung. Kuda biasanya didapatkan dari hasil ternak warga, setiap keluarga bermusyawarah dan melakukan tawar menawar kepada warga pemilik kuda. Sistem pembayarannya juga lain dari sistem jual beli seperti biasanya, pembayaran dilakukan warga setelah panen raya dengan alat bayar berupa beras. Kuda yang dibeli biasanya berjumlah 2 – 3 ekor kuda, tergantung pesanan warga.

Adapun daun karungrung biasanya didapatkan di hutan terdekat. Pohon karungrung tumbuh liar di hutan dengan ciri ciri menyerupai pohon kedondong, hanya saja pohon karungrung ini mempunyai batang yang besar dan buah yang kecil. Rasanya agak kecut.

Proses pengolahannya pallu karungrung juga terbilang unik. Kuda yang dipilih adalah kuda betina, konon kuda betina rasanya jauh lebih lezat dibandingkan kuda jantan.

Sebelum dipotong, kuda terlebih dahulu diajak berlari-lari sampai keringatnya keluar, tujuannya yaitu supaya setelah diolah rasa gurih pada kuda lebih maksimal. Teknik pemotongannya pun harus dilakukan oleh ahli, karena pada leher kuda yang akan dipotong terdapat satu titik untuk menghilangkan bau tak sedap pada kuda.

Sedangkan daun karungrung yang biasanya didapatkan di hutan, harus di petik sebelum matahari muncul. Masyarakat percaya bahwa apabila dipetik sebelum matahari muncul, jauh lebih nikmat rasanya dibandingkan dipetik setelah terkena cahaya matahari.
Hampir semua warga Tompobulu mengerti cara mengolah pallu karungrung menjadi makanan siap saji. Sensasi rasanya selalu saja membuat orang yang pernah mencobanya untuk kembali merindukan makanan khas ini. Jika anda penasaran dengan rasanya, datanglah ke Tompobulu pada lebaran idul Fitri atau mintalah warga untuk membuatkannya. Setiap orang di dunia ini patut penasaran atas sensasi rasanya.