Gemanews.id-MAKASSAR — Hubungan Masyarakat Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Jurnalis Indonesia (DPD PJI) Sulawesi Selatan, Dzoel SB, mengimbau seluruh Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kabupaten/kota, SKPD Pemprov, serta jajaran TNI–Polri untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap oknum yang mengatasnamakan wartawan menjelang Ramadan 1447 Hijriah/2026 M.
Imbauan tersebut disampaikan Humas DPD PJI Sulsel Zoel SB kepada awak media di Makassar, Kamis (19/2/2026).
Ia menyoroti maraknya kelompok yang disebutnya sebagai “wartawan muntaber” — muncul tanpa berita — dan wartawan musiman yang diduga hanya bermodalkan kartu pers tanpa produk jurnalistik yang jelas.
“Modusnya berkelompok, lima sampai sepuluh orang. Dalihnya meliput kegiatan buka puasa bersama atau agenda Ramadan lainnya. Namun setelah itu, tidak ada berita yang terbit. Ini praktik yang mencederai marwah profesi,” tegas Dzoel.
Menurutnya, profesi wartawan adalah profesi mulia yang dilindungi undang-undang dan menjadi bagian dari pilar keempat demokrasi. Karena itu, integritas dan tanggung jawab etik harus dijaga bersama oleh organisasi pers, perusahaan media, maupun individu jurnalis.
Dzoel juga menilai menjamurnya media online tanpa standar manajemen redaksi yang jelas turut membuka ruang bagi oknum menyalahgunakan identitas pers untuk kepentingan tertentu. Fenomena ini, kata dia, bukan hanya merugikan instansi pemerintah, tetapi juga mencoreng kepercayaan publik terhadap kerja jurnalistik yang sah dan profesional.(**)
“Kami tidak ingin ada pembiaran. Instansi pemerintah dan aparat berhak melakukan verifikasi identitas dan legalitas medianya. Tetapi di sisi lain, jangan sampai langkah pengawasan itu justru menghambat kerja wartawan profesional yang bekerja sesuai kode etik,” ujarnya.
DPD PJI Sulsel mendorong seluruh pihak tetap menghormati kebebasan pers sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, sekaligus menindak tegas praktik-praktik yang diduga menyimpang dari prinsip jurnalistik.
“Ramadan adalah bulan suci. Jangan sampai ada yang menjadikannya momentum mencari keuntungan dengan cara yang merusak nama baik profesi. Wartawan sejati bekerja dengan berita, bukan dengan kartu,” pungkasnya.(**)


